Fiksi / Puisi / Dari Bilik Gerbang Penjara Suci

Dari Bilik Gerbang Penjara Suci

Aku menyaksikan dari bilik gerbang penjara suci

Kehendak ku untuk meniti

Menatap masa depan yang tak pasti

Mengira dirimu telah pergi

Pergi bersama dengan harumnya melati

Menyisakan pilu yang tak hakiki

Aku menyaksikan dari bilik gerbang penjara suci

Ditimpa derita menyisahkan luka

Seperti makhluk tak berdaya di dalam goa

Bagaikan kepingan gugur yang serupa

Ditelan kehilangan yang binasa

Memikirkan nasib sang pujangga

Aku menyaksikan dari bilik gerbang penjara suci

Tatkala lembaran putih seperti perak

Menggeluti rindu yang bergejolak

Padahal jasadmu tak tertolak

Bagaikan siraman kalbu yang melonjak

Menelan kepahitan yang tak kunjung tertebak

Aku menyaksikan dari bilik gerbang penjara suci

Hanya menatap matahari terbenam

Mengumbar senyum pada mukaku yang biru muram

Sehingga tak sanggup mengucap salam

Pada dunia ku yang mulai tenggelam

Tergabung dari yang haram

Aku menyaksikan dari bilik gerbang penjara suci

Yang haus akan air mengalir

Hanya mendengar suara yang tergelincir

Menunggu tulang mencair

Ditemani minuman bintik cangkir

Aduhai nasib sungguh tak terlahir

Aku menyaksikan dari bilik gerbang penjara suci

Telah pergi dengan abu-abu

Dan aku hanya menanggung kelabu

Lantas yang lain tak bisa meniru mu

Kau pergi hanya memberiku sebuah lagu

Tak mampu aku merelakanmu

Sedang kau abadi dalam sejarah ku

Aku menyaksikan dari bilik gerbang penjara suci

 

Tadabbur Cinta

Helaian sutra merajut kisah lentera

Tadabbur maghrib dalam jilatan fajar

Sementara dajjal bersiap menghajar

Dambaan hamba yang mengurai tasbih

Terlelaplah dalam naungan mimpi

Ketika itu keluar dari makhluk durjana

Sepertinya cinta menyentuh lembut

Sang insan bangkit mengalirkan air

Barakah mengalir disetiap lekuk tubuh dalam wudlunya

Semisal kekeliman terkubur dalam

Ingkar menyedot berartinya waktu

Stasiun Masa Lalu

Kau menarikku sehubungan dengan kencangnya kereta melaju

Kau mengenaliku meskipun aku ditengah-tengah desakan kepala

Bersama bermain kenangan dalam ingatan masa lalu

Kau tak biarkan aku melambaikan tangan padamu

Sementara aku tak bisa melawan takdir

Dengarlah musik menyebarkan aroma kenangan itu

Seantero stasiun menjadi saksi kisah singkat kita

Kau bawa kisah ini menjadi cerita dalam buku best seller

Pundakmu menjadi sandaranku dalam kereta

Cinta bagaikan tersaji menyelimuti kisah di stasiun kenangan

Musisi jalanan menjadi pelengkap hilangnya bias romantic

Pencopet dan calo tak menghalangi indahnya warna-warni kelakuan kita

Tak ada kata lelah berpetualang cinta denganmu

Pertama bertemu dan berpisah hanya kelipan masalah

Ingatkah ketika langkahku gontai ketika kita saling membalikkan punggung?

Telah sampai masa kita untuk melupakan sebait senyum yang sementara

Berpisah karena adanya pertemuan

Sekarang kemana kenangan itu?

Masihkah kau mengingat bahwa aku ada dalam sejarah hidupmu?

Darimu aku pelajari kenangan sejati

Jika tanganmu tertulis namaku

Jika takdirmu melirik keinginanku bersamamu

Maka, kisah kita menjadi rantai yang tak ada putusnya

Maka, kisah kita benar-benar akan menjadi persimpangan yang tak ada ujung

 

Gambar dari: https://pixabay.com/id/photos/pintu%20gerbang/

Foto Profil dari Afifatur Rohmah
Data Diri Nama saya Afifatur Rohmah lahir di Bangkalan, tanggal 07 November 1995. Beragama islam, saya tinggal di jln. Sunan kalijaga No. 7AA, Malang. Saat ini saya menempuh S1 di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang. Mengambil jurusan akuntansi

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

www.bahasainggrisonline.org

Menciptakan Kalimat Agar Tidak Kaku

Kalimat merupakan bagian dari sebuah paragraf yang membangun cerita. Jika kalimat yang ...