Fiksi / Puisi / Kebisingan Demokrasi

Kebisingan Demokrasi

Kebisingan Demokrasi

Jaringan keributan melanda negeri

Layaknya negeri tak kenal ilusi

Sendiri berjuang, sendiri terbisingi

Rakyat tak bermimpi melawan korupsi

Sementara pemakai dasi mendewakan demokrasi

Tak berfikir nyanyian bergema menyindir

Pemakai dasi hanya berlagak menyangingi karir

Sungguh potret isapan jari yang berlendir

Menyelami cangkir kerakusan

 

Negeri Berwarna

Selaras keindahan, bergelut dalam alam

Menjulang tumbuhan bak tak pernah terkikis

Siraman laut menghampar luas

Hingga menyambut iri pada lainnya

Bingkai lukisan tuhan tertuang di negeri ini

Bibit tanpa akar tumbuh melesat tak terlihat

Begitu karunia di negeri berwarna

 

Subsisdi Kemerdekaan

Terjaga, lintas kepiluan dalam lumbung kemerdekaan

Seperti jahiliyah menerbangkan janji

Khuldi, kelimpahan terlarang menjalari kehidupan pribumi

Rengasdengklok saksi subsidi kemerdekaan berkibar

Para tetuah menyalami penjajah demi kejayaan

Sebuah harapan tampak jelas akan teraih

 

Bila Negara Tertawan

Bila negara tertawan

Haluan juang menjadi sampah tertumpah

Pergi menjejaki tanah berlindung semu

Semua tergelincir dan terkuasai

Sedang mereka tertawa

Menawan negara yang beralaskan kebodohan

Merasa menang menjajah pemikiran

Bebas namun tertawan dalam kelabu

Semua kacau mengobrak abrik peraturan

 

Segelintir Titah

Dokumen hitam menyesatkan pembaca

Hanya mengangguk menerima titah

Seperti racun yang tak nampak mematikan

Kadang penguasa meminum darah ajudannya sendiri

Gambar suram yang perlu penghapusan

Jika tidak keambrukan tak terelakkan

Yang tak berdosapun ikut menanggung salahnya titah

Sungguh memilukan bibir kering, tak ada setetes harapan baru

 

Kontribusimu

Pahlawanku, mengenang cipta perjuanganmu

Kami rindu kecahayaan teguhmu

Saat ini seperti keronta di negeri kami

Sarat resesi empati menghilang entah kemana

Simalakama menggumpal dalam hati kami

Tak lagi memikirkan negeri

Hanya iri menyelam bak ikan terbebas lepas

Kami rindu ide kebuasanmu melawan colonial

Tapi sekarang kami dijajah dalam kesesatan akal

 

Jinaknya Hasil Bumi

Hingga beribu kehijauan menyambut embun

Kau bilang tak payah menjadi petani

Tapi, padi memberontak untuk dipanen

Rakyat membutuhkan gizi

Tapi kau enggan menuai manfaatnya

Tak salah sawah mengairi hati

Ketika budi memberdaya kelaparan

Rakyat hidup dengan embulan nasi

 

Diskriminasi

Lihatlah ketika mereka menganggap rendah

Mengalami kegelapan berkepanjangan

Tak menemukan titik letusan cahaya

Sejak dulu berjuang menggemborkan kesejahteraan

Fenomena tren terbumbuhi karang lubang yang memenuhi penyimpulan keliru

Wanita tertelanjangi letupan aturan berkisar dalam lambung kehidupan

Sedang mereka meneguk keluasan dalam limpahan kebebasan

Meliburkan kesetaraan tak ada ujung pandangnya

Siasat melenyapkan, seakan dahak tak bernafas lagi

Hikayat mati namun tiada arti

 

Penjara Bawah Tanah

Tiada kesejahteraan mendatang

Gumpalan kesalahan bagai ombak yang menderu

Gelak halilintar menyembur memekakkan lindung telinga

Selalu terjaga bersaing dengan ramun nyamuk

Prajurit bagai patung yang tiada henti membentak

Tembakan mendesis bagai tsunami

Sederhana melawan penjaga

Apa daya hanya angan tak pernah jadi nyata

Hanya mampu membuka jendela kemalangan

 

Gambar dari: https://www.google.com/search?q=gambar+demokrasi

Afifatur Rohmah
Data Diri Nama saya Afifatur Rohmah lahir di Bangkalan, tanggal 07 November 1995. Beragama islam, saya tinggal di jln. Sunan kalijaga No. 7AA, Malang. Saat ini saya menempuh S1 di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang. Mengambil jurusan akuntansi

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

www.bahasainggrisonline.org

Menciptakan Kalimat Agar Tidak Kaku

Kalimat merupakan bagian dari sebuah paragraf yang membangun cerita. Jika kalimat yang ...