Fiksi / Cerpen / Embun dan Lelaki Maya

Embun dan Lelaki Maya

Namanya Embun Lazuardi. Dia begitu terobsesi dengan maya, dan menjadikan maya adalah rumah keduanya. Dia terlahir sebagai gadis yang menarik. Binar matanya menyiratkan tak acuh pada penampilan tubuhnya. Bibirnya memerah merona kala tersenyum. Dan kedua pipi cukup terlihat langsing tak berisi untuk gadis seusianya.

“Embun,” dia menyipitkan matanya, menoleh ke arah suara yang mengusik konsentrasi yang sedang mengembara dalam dunia maya. Matanya menangkap sosok gadis berambut pirang sedang menatapnya tajam, dan mendekat.

“Habiskan makananmu. Jangan terlalu berambisi dengan maya.” Gadis berambut pirang itu duduk di hadapan Embun, mengambil sepiring makanan yang belum disentuh oleh Embun sama sekali dan meletakkannya di atas keybord laptopnya.

“Hm, maya itu mengasyikkan Mel.” Sanggah Embun tersenyum semanis mungkin, dan menaruh piring itu kembali di atas meja tak menghiraukan temannya sama sekali.

Lantas jemari Embun yang mungil begitu lincah menekan tuts keyboard berkali-kali, dan menggerak-gerakkan mouse yang berkedip hijau biru secara bergantian. Layar monitornya menyala teran, dan sedikit mengurangi nafsu makan siangnya itu di kantin kampus.

“Embun … maya selamanya kan tetap maya.” Suara gadis pirang itu kembali membuat Embun sedikit terusik. Lalu dia menggeser laptopnya ke meja yang agak jauh dari jangkauan. Di hadapannya masih ada nasi yang mendingin, karena belum di sentuhnya sama sekali. Dan ia meraih sepiring nasi itu dengan cekatan.

“Mel, dia begitu menyihirku. Lelaki maya, tapi begitu nyata.” Embun meraih sendok di atas piring, dan mengaduk-aduk makanannya. Tatapannya tetap mengarah kepada Mela—sahabat yang berambut pirang itu—di depannya.

“Terserah. Asal aku sudah memperingatkanmu. Kamu nggak maukan lukamu yang dulu kembali mengangga, hanya karena lelaki maya yang jelas-jelas maya.” Cetus Mela, nadanya terdengar kesal.

“Siap, komandan.” Canda Embun tersenyum, ”dari dulu aku tak pernah mau menjalin hubungan dengan sosok bernama adam, kecuali memang sudah waktunya.”

Embun melahap sepiring nasi itu begitu cepat. Dalam 7 menit, makanan yang sedari tadi tak begitu nafsu untuk dilahapnya, sudah habis tak bersisa. Dia berpikir mungkin akan lebih cepat menghabiskannya, dan kembali bercengkerama dengan maya.

“Namanya Dahan. Keren kan!” Embun memainkan sendoknya di atas piring dan mengetukkannya beberapa kali ke tepi piring. Hingga menimbulkan bunyi ‘ting’ nyaring sekali. Setelah itu, dia meletakkan sendok alumunium itu di tempatnya, dan menjauhkan lagi dalam jangkauannya. Embun menarik laptop yang masih menyala layarnya.

“Terserah, aku cuma mengingatkan. Maya selamanya kan tetap maya.” Sergah Mela beranjak berdiri dan berlalu begitu saja.

***

“Dahanku hanya untuk menampung embun yang meluncur dari dedaunan”

“Embun masih semu memandang dahan yang masih dan kan tetap maya”

“Tenanglah, suatu saat maya kan menjadi realita. Realita sebuah kehidupan nyata.”

“Maya selamanya kan tetap maya tak akan menjaid nyata.”

”Tengoklah, awan tersenyum memandang lelaku kita. Embun dan Dahan kan berpadu kokoh.”

Embun tersenyum sesaat. Membaca kalimat terakhir dari chat Dahan yang membuatnya sedikit tersanjung. Apa benar Dahan punya perasaan dengan Embun yang jelas saja masih maya. Sekelebat tak senang begitu saja terlintas di pikiran Embun. Bukan ia tak mempercayai Dahan yang hampir 3 bulan ini menemaninya dalam dunia semu tak berujung tanpa realita yang masih menggantung.

“Mungkin …. Ah, ya mungkin saja begitu.” Kata Embun lirih. Hanya cukup memandang chat Dahan yang terakhir, tanpa ada niatan untuk membalasnya. Segala kemungkinan telah berkecamuk tak tentu dalam pikirannya. Hanya satu saja pilihannya saat itu … membuktikan ucapan Dahan yang teruntai aksara menjadi realita.

“Embun, satu hal yang tak bisa kupungkiri. Awan masih saja mengikutiku, maukah kau mengganti posisi awan itu, Embun, selepas ini langkahkan kaki kita bersama, menjalin syahdunya hidup yang penuh liku.”

Ingin rasanya Embun membalas ungkapan Dahan yang sudah ketiga kalinya menyatakan perasaannya. Namun, jemarinya seolah kelu, nalurinya berbisik untuk membiarkan saja semua itu. Semua itu butuh proses dan waktu. Embun hanya memandang semu barisan aksara yang berada di layar monitor laptopnya.

***

Foto Profil dari anisa alfi nur fadila

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

www.bahasainggrisonline.org

Menciptakan Kalimat Agar Tidak Kaku

Kalimat merupakan bagian dari sebuah paragraf yang membangun cerita. Jika kalimat yang ...