Fiksi / Cerpen / Embun dan Lelaki Maya

Embun dan Lelaki Maya

Embun mondar-mandir saja di depan pintu kamarnya, bolak-balik antara kamar dan ruang keluarga, menunggu kabar lelaki maya di seberang. Di kamarnya masih terpasang kabel charger yang teruntai panjang ke arah laptop di meja belajar. Sudah hampir satu jam lebih, laptopnya tak segera terisi penuh, padahal ada sesuatu yang hendak diungkapkan pada lelaki maya di seberang.

Jemari mungilnya terus saja mengenggam erat, menanti dua benda yang sangat disayang—dua nirwana kecil yang tak ingin di tinggalkannya—yaitu telepon genggam dan laptop. Di ruang tamu, telepon genggamnya masih digunakan ibunya untuk telepon kerabat. Dan Ibunya sudah mewanti-wanti dirinya, untuk tak menggunakan Laptop saat di charger. Makanya dia benar-benar linglung.

“Mungkin inilah rasanya kasmaran seoarang gadis pada rindu di ujung penantian.”
Setelah dirasa kerlap-kerlip pada ujung laptopnya sudah berwarna hijau, lantas Embun melepas charger dan membawa laptopnya ke ruang tamu. Sembari menanti telepon genggamnya yang dibawa oleh ibunya.

Pada catatan malam, abjad namamu terurai sulit kurangkai. Hatiku berkelana, mengembara tak henti, dan di saat keheningan malam ini membawaku pada kahyangan tak berujung. Ku temukan sisi kokoh yang tengah menatapku syahdu, dan menantikanku setiap waktu. Dahan, sahabat berjiwa mulia yang kutemukan di sudut nirwana.

Jemari Embun dengan cekatan mengetikkan beberapa bait aksara yang telah kurangkai dan dikirinkan kepada lelaki maya yang beberapa hari sudah menyihir hatinya, yang telah tertutup oleh libido masa lalu terpenjara sunyi.

Entahlah masih enggan untuk mengakui tentang Dahan. Sebenarnya rasa ini masih kosong, namun sedikit saja akan terbuka, walaupun dalam nurani di lorong hati tak mempercayai lelaki maya yang belum realita sama sekali.

***

Seharian libur akhir pekan, Embun menghabiskan waktunya di depan layar computer. Matanya tak beralih dari poto Dahan yang dijadikan poto profil. Poto itu bergambar sesosok lelaki yang sedang merenung, memandangi layar monitornya. Di dalam layar monitor itu terlihat sesosok gadis yang wajahnya diberi tanda tanya. Walaupun itu animasi itu sepertinya mengisyaratkan sesuatu.

Akhir pekan ini, Embun hanya menunggu bunyi ‘Tring …’ dari chattingannya ataupun bunyi bip dari telepon genggam yang selalu berada di dekatnya. Kabar dari seberang tak kunjung datang, Embun beranjak ke ranjang. Padahal sudah ia nanti semenjak beberapa jam yang lalu. Dari tadi pagi sampai sore tak ada sapaan darinya.

Embun, aku sudah berada di depan kamarmu.

Pesan singkat dari telepon genggam Embun yang berbunyi bip. Dia mengira itu dari Dahan yang hendak menelponnya, namun ternyata dari Mela sahabatnya yang sedang ingin berkunjung pada malam minggu hari ini.

Dengan enggan Embun ingin tidur yang barangkali akan membuatnya sedikit tenang dari kerinduan yang semu dari lelaki maya Embun segera beranjak untuk membukakakn pintu untuk Mela yang sudah berada di depan kamarnya.

***

Ruangan ini sunyi, sayang. Namun ada sedikit lorong yang tenang yang berada di dekat ranjang, tepatnya di tempatku berbagi denganmu, di atas meja kayu jati itu. Tempat tersyahdu dan yang paling kunanti tiap detiknya. Secangkir teh tergeletak kosong di atas meja, tersadar bahwa kini dan nanti, aku kan selalu menantimu dalam lamunan tak berujung, walaupun kau hanya lelaki maya.

Embun mengetikkan beberapa aksara pada statusnya di beranda. Dia benar-benar gundah gulana, kabar dari seberang semenjak hampir sepuluh jam tak ada. Tak sengaja Mela yang sedang berada di kamar Embun, melihat tingkahnya dan membaca status itu.

“Embun, aku ingin lihat yang namanya Dahan,” ujar Mela tiba-tiba. Mela membisikkan di dekat telinga Embun, sontak Embun terhenyak kaget, dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Mela.

Embun membisu, ia hanya tak ingin terlihat khawatir menanti Lelaki Maya yang telah lama menghilang walaupun masih beberapa jam. Tapi, hatinya begitu tersiksa.

Pointer mengarah ke profil Lelaki Maya dan Mela sedikit menggeser tubuh Embun, dan duduk di sampingnya. Dengan sedikit mengalah, Embun berdiri dan membiarakan Mela mengambil posisi duduknya. Memang selama ini Mela tak tahu sama sekali, siapakah lelaki maya yang menorehkan beberapa bait puitis untuknya.

“Hm, namanya Dahan … cakep, untuk ukuran seorang lelaki.” Ujar Mela menyipitkan matanya dan mengarahkan pointer ke arah yang dia mau.

Mela benar-benar mengutak-atik semuanya, dari awal sampai akhir. Entah kenapa tiba-tiba tangan Mela mengarahkan pointer pada teman yang dipunyai Dahan.

Embun masih saja terdiam dan cukup melihat saja apa yang dilakukan Mela, walaupun dalam hati, dia sedikit terusik dengan privasinya. Namun, apa boleh buat, Mela telah menjadi sahabatnya semenjak kecil, dan dia tahu apa yang mesti dia lakukan.

***

Foto Profil dari anisa alfi nur fadila

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

www.bahasainggrisonline.org

Menciptakan Kalimat Agar Tidak Kaku

Kalimat merupakan bagian dari sebuah paragraf yang membangun cerita. Jika kalimat yang ...