Fiksi / Cerpen / Embun dan Lelaki Maya

Embun dan Lelaki Maya

“Embun, sepertinya poto lelaki maya ini sama dengan poto perempuan ini, deh!” ucap Mela menyadarkan Embun yang tengah menenangkan pikirannya dari pikiran Lelaki Maya barangkali dia memang maya.

Setengah kaget, Embun perhatikan secara saksama, dan benar saja, poto itu mirip dan seperti berpasangan dengan milik Dahan. Ada seorang gadis yang sedang termenung menatap layar Laptop, dan persis seperti milik Dahan.

Sontak Embun mengepalkan tinjunya, dia sungguh geram sekali. Jadi selama ini hanyalah permainan yang sengaja dirangkainya untuk ikut dalam sandiwara itu dan dia adalah bagian dari lakonnya. Mela yang berada di sampngnya hanya bisa mengelus-elus punggung Embun beberapa kali. Untuk menenangkannya.

***

Keping-keping waktu berurai langit. Di atas kepalaku seakan tercerai berai, cemburu yang menyeruak, menyusup perih ke liang rasa sesak. Dan inginkan enyahkan kenangan semuanya.

Embun tak habis pikir, kenapa Dahan mencoba tak jujur saja kepadanya. Mungkin kalau saja ia bersikap jujur dan tak membohongi Embun yang walaupun bukanlah kekasih Dahan, tapi ungkapan perasaan itu cukup menyakitkan.

Ketika kesetiaan berbalas tanpa penghormatan. Hanya sesak terbungkus hening kepiluann, membuatku semakin ingin enyahkan kau dari kotak kenanganku yang selalu mengendap tentangmu.

Embun mengetikkan amarahnya, dan dia kirimkan kepada lelaki diseberang yang tak ada kabarnya. Ingin rasanya dia mengahapus tentang itu semua, namun Embun masih ingin terus mencari dan menemukan alibi dari maksud si Dahan

“Sesalku tak berguna memang untuk mengganti kepingan hatimu yang terluka. Maaf, aku tak akan bisa membuat Embun kecilku seperti lelaku yang dulu kita semaikan. Embun kecilku, maaf.”

Embun hanya memandang balasan Dahan yang tak dikiranya. Ternyata Dahan membalasnya. Lantas kemanakah dia dari kemarin dan kemarinnya lagi.

Embun hanya terdiam dan membisu. Ia sudah terlalu sakit, dan terluka.
“Maaf, Kini semua telah berlalu. Lelaki maya kan selamanya kan tetap maya. Kita kan selalu bersahabat dalam dunia maya. Tetaplah menjadi penyemangat dan bintang sahabat hatiku. Terimakasih telah menganggapku sebagai embun kecilmu.”

Embun mengetikkan kalimat itu dengan nada sendu. Lalu mematikan laptopnya yang memanas. Biarlah dia menjadi lelaki maya, lelaki kenangan yang akan selalu menghiasi hidupnya. Dan lembaran baru sudah terbuka kembali.

**end**

Foto Profil dari anisa alfi nur fadila

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

www.bahasainggrisonline.org

Menciptakan Kalimat Agar Tidak Kaku

Kalimat merupakan bagian dari sebuah paragraf yang membangun cerita. Jika kalimat yang ...