Fiksi / Lain-lain / Tentang Ketika . . .

Tentang Ketika . . .

Ketika sebuah ketiadaan itu menjadi ada, ketika yang begitu diharapkan itu telah tiada, dan ketika aksara yang telah kurangkai ini tlah tiada. Kutitipkan sebaris huruf rapi yang berderet, demi menemani petangmu dalam ketiadaan yang telah tiada.

 Ketika suatu saat aku tengah dilanda dilema, antara nakal dan malas yang tak berkesudahan. Tolong ingatkan aku bahwa semua itu hanyalah ilusi semata, karena aku sedang berproses menuju sebuah kemenangan yang entah sedang mengembara kemana. Tolong, rangkaikan semua gundah gulana itu menjadi satu kesatuan, karena sebuah kata malas dan nakal itu hanyalah sebuah proses menuju ke puncak impian.

 Dalam sebuah titipan malam, suatu ketika kutemukan perjalanan keheningan. Aku menapaki langkah ini secara perlahan dan tenang, kutemukan di permainan remang tergenang sebuah mantra bercengkerama dalam diam. “Siapakah kau?” kataku menepikan kata di sudut ruangan. Diam memekik malam yang kelam. Kutanya lagi pelan dengan nada sumbang, “Siapakah kau?”. Ada yang berbisik samar, “Akulah kunang-kunang. Aku ada dan ketika kau telah tiada.”

 Tentang selembar yang telah kosong, suatu ketika kan menjelma dengan coretan yang berguna. Ketika suatu saat aku menjadi berbahagia, tolong ingatkan aku agar tak terlena. Karena antara lena dan bahagia bisa membuatku tak mampu lagi berkaca, dan meratapi asa yang gagu memecah rindu. Ingatkan itu saja, teman.

Ketika kau yang maya dan sesekali pernah bertemu denganku, memandang dengan mata penuh keherenan. Ketika itu juga aku akan tahu apa yang sedang kau pikirkan. Kenapa? karena aku sudah terbiasa dengan tatapan itu. Kenapa? karena ini hanyalah sebagian dari perjalanan kehidupan yang tak akan kumunafikan. Kenapa? karena ini hanyalah sebuah takdir kehidupan yang kan menjelma menjadi memori keabadian. Kenapa, dan kenapa? karena ini hanyalah sebuah kesalahan yang tak pantas dirutuki sepanjang hari. Hanyalah sebuah fase kehidupan, tinggal bagaimana menentukan secangkir bayangan yang kan selalu membayang.

Ketika aku telah menjadi teman tak berperasaan, tolong buang saja aku dalam kesendirian. Tapi dalam pesanku yang terbalut mata kesedihan, aku akan tetap menjadikan kalian teman walaupun hanya tinggal kenangan. Karena kutahu bahwa seorang teman itu terkadang harus bisa menyisihkan harapannya yang tersimpan hanya untuk dan demi sebuah pertemanan.

3Hewan-Hewan-Pengantar-SuratKetika baris ini diharuskan diakhiri, tolong sisihkan sebaris balasan sepanjang raut mukamu yang keheranan, entah takjub entah kecewa ataupun marah. Karena ini hanyalah ungkapan keseharian yang sempat singgah di pelataran rumahku menjelang petang.

Foto Profil dari anisa alfi nur fadila

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

www.bahasainggrisonline.org

Menciptakan Kalimat Agar Tidak Kaku

Kalimat merupakan bagian dari sebuah paragraf yang membangun cerita. Jika kalimat yang ...