Fiksi / Cerpen / Aku Butuh Kepastian (Kisah Nyata)

Aku Butuh Kepastian (Kisah Nyata)

            Lia hanya bisa diam atas gunjingan tetangga tentang hubungannya dengan Ahsan yang bergantung tanpa ada ikatan hanya berstatus pacaran. Keluar masuk desa berduaan dan tanpa ada rasa malu dengan apa yang mereka lakukan, padahal lingkungan desanya dianggap sudah keramat dengan lingkungan santri.

 “Aku sudah mengatakannya pada Mas Ahsan Bu. Tapi katanya menunggu dia lulus kuliah mungkin kurang tiga tahun lagi” dia hanya tersimpuh.

“Apa? Kamu sudah lima tahun pacaran dengan Ahsan. Apa masih kurang?! Ibu itu malu atas omongan warga selama ini Lia!.”

“Aku tahu Bu, sebenarnya sudah lama aku menunggu keseriusan Mas Ahsan tentang hal ini. Aku juga menahan sifatnya yang tidak pernah mendukung dan mengerti keadaan dan kuliahku. Sepertinya aku tidak kuat jika terus seperti ini. Mending aku terusin hubungan lebih serius lagi dengan Nanang yang selalu ada dan mendukungku.  Aku juga malu Bu, tapi Mas Ahsan terus memaksaku untuk keluar bersamanya terus” Lia menundukkan kepala.

“Begini saja, biar Ibu sama Bapak ke rumah Ahsan untuk menindaklanjuti hubunganmu ini. Kalau Ahsan kesini nanti Ibu yang ngomong sejelas-jelasnya bagaimana untuk tindakan selanjutnya?.”

 

            Lia hanya bisa diam merenung di bilik kamar. Linangan air mata terus  membasahi pipi lembutnya atas perkataan Ibunya yang menusuk hati. Di samping itu, dia sakit karena penantian lima tahun berjalan layaknya permainan. Dia juga bingung atas hubungannya dengan Nanang yang selalu mendukungnya dalam hal apapun. Dia takut terjadi kejadian yang tidak pernah dipikirkan.

***

 

“San, Lia itu sudah menanti ikatan pasti atas hubungan ini. Jangan permainkan dia” sapa Ibunya.

“ Saya tidak bermaksud mempermainkannya Bu. Saya sudah bilang nanti kalau saya lulus kuliah dan kerja mapan saya janji Lia saya akan pinang” tegas Ahsan.

“Maka dari itu, buatlah ikatan pasti dulu. Tukar cincin atau apa? Biar semuanya jelas. Para warga sudah menggunjing aneh-aneh. D isamping itu Nanang sudah menunggu keputusanmu. Dia telah mengisi hidup Lia.  Kamu tahu selama ada Nanang Lia seperti tidak ada beban. Selalu tersenyum tidak ada air mata!” jelas Ibunya.

“Memang saya yang salah Bu. Sampai Lia mencari cowok lain yaitu Nanang. Tapi saya cinta benar Bu dengan Lia. Kemarin saya sudah cerita sama Ibu dan Bapak tapi mereka tidak mengizinkan.”

“Terus kalau begini…!!”

“Bu, aku juga tahu sendiri perkataan Ibunya pada Mas Ahsan tentang hal ini. Beliau memutuskan untuk menunggu Mas Ahsan lulus dulu” potongnya lembut.

“Sekarang serba salah. Ibu tidak tahu harus bagaimana?!.”

            Ibupun pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu dengan suasana hening. Lia pun juga ikutan menyusul Ibunya untuk meninggalkan Ahsan sendirian. Sedangkan Ahsan di rundung rasa bingung apa yang harus dia lakukan jika seperti ini?.

***

 

            Dengan kebijakan yang di buat oleh Ibunya, Ahsan, Nanang dan Lia pun bertemu di sebuah tempat dimana mereka  yang memastikan atas peristiwa menunggu dan di tunggu ini. cekcok penjelasan yang begitu beratnya Ahsan atas keputusan untuk melamarnya, membuat Nanang mengungkapkan pendapat bahwa semuanya terserah Lia yang menentukan sekarang. Tiba-tiba suasana diam mendera dan lantunan lirih dari Lia menyapa,
“Aku memilih orang yang menghiasi hidupku bukan orang yang menyia-nyiakan hidupku” lirihnya.

“Begitu keputusanmu, aku kecewa” ungkapnya.

“Terserah, kalau memang kamu serius dengan hubungan kita jangan seperti ini. Menunggu dan menunggu. Sedangkan warga desa telah mengetahui semuanya tapi apa? Tukar cincin saja kamu tidak bisa. Aku harus bagaimana lagi kalau tidak mengakhiri!” bentak Lia.

Ahsan lekas meninggalkan Lia dan Nanang.
“Lia, kamu yakin atas keputusanmu ini?” tanya Nanang.

“Aku lebih dari yakin. Karena saat aku terluka atas perlakuan Ahsan selama lima tahun ini dengan penantian. Perlakuanmu yang baru dua bulan lebih indah mewarnai rangkaian hidupku dalam semua segi. Nang, aku memilihmu. Yang lalu biarlah berlalu.”

Tiba-tiba Lia memeluk Nanang erat-erat.

“Terima kasih sayang, aku tahu semuanya, tapi mungkin inilah takdir jika sebuah cinta sejati dipertemukan dengan cobaan dan penantian yang begitu pelik.”

 

            Mereka pun pulang. Nanang meminta izin kepada orang tuanya Lia untuk lebih mengenal lagi tentangnya sebelum setahun lagi dia akan melamarnya. Keyakinan dia telah bulat bahwa Lia lah jawaban dari bermacam-macam wanita yang pernah singgah di hatinya. Begitupun Lia , keyakinannya bahwa cinta yang lama tidak bisa menjadi sebuah acuan untuk menunggu hari-hari indah yang diimpikan namun saling melengkapi dan perhatian yang bisa menjawab mimpi-mimpi indah untuk berdua dalam sebuah ikatan cinta.

Penulis: Nastain Achmad

Foto Profil dari Nastain Achmad
Suka menulis artikel, puisi dan cerpen. Ingin hidup untuk menulis

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

www.bahasainggrisonline.org

Menciptakan Kalimat Agar Tidak Kaku

Kalimat merupakan bagian dari sebuah paragraf yang membangun cerita. Jika kalimat yang ...