Fiksi / Cerpen / Ayah, Engkau Di mana?

Ayah, Engkau Di mana?

Kejadian yang seharusnya jangan sampai terjadi pada bahtera keluargaku yang masih dini, aku tak tahu menahu tentang kepergianmu dengan sederet peristiwa pedih yang harus aku telan mentah-mentah tanpa sebab yang nyata. Kau sisakan luka dan kehinaan yang menyakitkan.

 

Jalan utama satu-satunya adalah seluruh harta yang kau tinggalkan seperti sepetak tanah di belakang rumah dan dua stand toko di pasar harus diperjualbelikan untuk melunasi seluruh hutang-hutangmu serupa sampah yang menggunung. Jika tidak segera dibersihkan akan bertambah banyak seperti virus. Persoalan demi persoalan harus aku tanggung sendiri bersama Ibu dengan tegar, sabar dan penuh kepahitan atas celotehan tetangga dan masyarakat sekitar yang mengolok-olok dirimu, Ayah. Sebagai darah daging, aku tak sunggup dan tak kuasa. Inginku hancurkan dan membunuh mereka. Tapi ini semua atas lakonmu.

Hari-hari berganti semakin lama semakin sunyi, setahun tanpa kabar kau ada dimana Ayah?. Kerinduan membelenggu, kebencian membeku. Memoriam, pagi yang cerah untukku hanya sepi tanpa isyarat ucapmu membangunkan pada waktu subuhku.

“Nak, ayo jama’ah sama Ayah dan Ibu?.”

Langkah yang layu tanpa kobaran semangatmu untuk mencari segudang ilmu. Lesu tiap ingatan saat aku kecup tanganmu lalu kau cium keningku dan memberikan tiga lembar uang ribuan di kantong seragamku.

“Jangan takut dengan satu pelajaran yang kamu benci. Cintailah gurunya lama-kelamaan pasti kau terlatih sendiri.”

Selayang pesan yang selalu aku pegang dan aku pertahankan sampai tiada satu pelajaran pun yang gagal dan berhenti dalam kebencian.

Rembulan menangis itulah aku yang selalu menikmati malam setelah belajar di beranda teras, sendirian. Biasanya kau selalu menemaniku dengan meminum secangkir kopi berdua dan menceritakan tentang masa remajamu yang selalu terbelenggu dalam kidung-kidung cinta serta menggelimuti segudang prestasi yang kau raih. Kata-kata semangat kau hembuskan setiap aku malas belajar, selalu terkenang sampai bibir ini tersenyum sendiri saat kesedihan merajam dalam ingatan. Derai air mata tak mampu menyeka kerinduanku yang semakin mendalam.

“Kalau kamu tidak mau belajar, siapa yang mau berteman denganmu? Orang pandai disukai banyak orang bahkan para wanita.”

Malam-malam terus kulewati sendiri. Lantunan ayat-ayat rindu selalu kudendangkan dengan mengadukannya pada bintang-bintang yang berkedip menghiasi malam. Daging-daging do’a selalu berikrar dan berkibar, harapan kau kembali dengan sejuta kebahagiaan.

“Tuhan, masih adakah waktuku untuk dipertemukan pada sesosok yang menjadi pahlawan hidup walaupun hanya sebatas impian dan khayalan fatamorgana? Kau Maha Pengasih, kasihanilah Ayahku, ampuni dosa-dosanya dan pertemukanlah aku walaupun sebatas kedipan mata. Aku rindu padanya, Tuhan. Jika takdir-Mu seperti ini, aku rela namun ijinkanlah kubawa hati yang selalu ada namanya ke luasnya jiwaku hingga aku tiada. Kabulkanlah do’aku Tuhan!.”

Ayah, aku hanya bisa mengenangmu selama ini. Semoga dengan coretan ini, curahan hatiku lembut berbisik lalu kau kembali dengan membawa samudera kebahagiaan untukku dan keluarga serta merajut asa bersama-sama lagi tanpa ada noda hitam. Selamanya.

Penulis: Nastain Achmad

Foto Profil dari Nastain Achmad
Suka menulis artikel, puisi dan cerpen. Ingin hidup untuk menulis

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

www.bahasainggrisonline.org

Menciptakan Kalimat Agar Tidak Kaku

Kalimat merupakan bagian dari sebuah paragraf yang membangun cerita. Jika kalimat yang ...