Fiksi / Dongeng / Ciko, Merpati yang Tak Mau Mengantar Surat

Ciko, Merpati yang Tak Mau Mengantar Surat

Alkisah di Hutan Isau-isau Pasemah, Sumatera Selatan, hiduplah seekor merpati bernama Ciko. Sehari-harinya para merpati bertugas mengantarkan surat dan Ciko sangat membenci itu. Seperti biasanya, Ciko bersama ayah dan ibunya berangkat ke balai untuk mengambil surat-surat yang harus diantar.

“Aku lelah mengantarkan surat terus” Ucapan Ciko seketika membuat ayah, ibu, dan Moses, petugas balai, merasa heran.

“Ini sudah tugas kita Ciko. Selaku Merpati kita memang harus mengantarkan surat” ucap Sang Ibu.

“Seharusnya kau bersyukur saja, Tuhan berbaik hati menciptakanmu sebagai merpati yang bisa terbang” lanjut Ayah Ciko.

“Ini perintah Tuhan, Ciko. Kau harus kerjakan ini sebagai wujud syukurmu pada Tuhan atas sayap yang kau miliki” ucap Moses sambil menyerahkan lima belas surat pada Ciko.

“Ya sudahlah. Kalian tidak mengerti aku” ucap Ciko sambil berlalu pergi.

Di tengah perjalanan, Ciko mendengar suara erangan kesakitan. Semakin ia bergerak ke timur, semakin suara itu terdengar jelas. Ternyata erangan itu berasal dari Mosu, si cacing. Ciko pun segera menghampiri Mosu.

“Mosu, ada apa? Kenapa kau mengerang?”

“Baru saja ada manusia yang lewat dan menginjak sebagian tubuhku” ucap Muso dengan nada sedih. Mendengar itu, Ciko pun memeriksa tubuh Muso yang terinjak.

“Lukanya cukup besar, Muso. Bagaimana jika kita ke balai? Moses pasti bisa mengobati lukamu”

Tanpa menunggu jawaban Muso, Ciko segera membawa Muso dengan paruhnya. Mereka pun terbang melintasi Hutan Isau-isau Pasemah yang hijau. Muso yang belum pernah terbang, tak henti mengucapkan “Wow”.

“Hutan ini benar-benar indah bila dilihat dari atas. Kau beruntung sekali memiliki sayap, Ciko”

“Beruntung bagaimana? Aku lelah mengantar surat dengan sayap ini”

“Lihatlah ke bawah. Apa kau pernah melihat ke bawah dan terkagum dengan ciptaan Tuhan yang indah itu?”

Ciko pun mulai melihat ke bawah, dimana berbagai jenis flora dan fauna hidup. Seketika ia kagum melihat alam di bawahnya, yang selalu ia lintasi, tapi tak pernah ia sadari keindahannya. Selama beberapa saat, Ciko menyesal dengan ucapannya tadi pagi.

“Benar kata Ayah, Ibu, dan Moses. Seharusnya aku bersyukur dengan sayapku, karena aku bisa terbang dan melihat dunia”

Sesampainya di balai, luka Muso diobati oleh Moses. Muso pun berterimakasih pada Ciko yang telah membantunya.

“Berterimakasihlah pada Tuhan, Muso. Dia yang telah memberiku kedua sayap ini, sehingga aku bisa terbang dan melihatmu yang kesakitan dari atas”

Foto Profil dari Rahel Lasmaria Simbolon

Silahkan Berkomentar

x

Check Also

www.bahasainggrisonline.org

Menciptakan Kalimat Agar Tidak Kaku

Kalimat merupakan bagian dari sebuah paragraf yang membangun cerita. Jika kalimat yang ...